Raina, siswi SMA dan tunggal andalan bulu tangkis sekolah, tumbang di turnamen karena cedera dan overthinking. Saat rasa percaya diri anjlok, ia menemukan aplikasi latihan eksperimental yang mensimulasikan lawan dengan gaya bermain identik dirinya. Setiap sesi scrim melawan si bayangan digital terasa seperti bercermin: cepat, presisi, tapi dingin. Untuk kembali ke lapangan, Raina harus membaca ulang pola geraknya, mengurai suara hati yang perfeksionis, dan menerima bahwa ketakutan kalah bukan musuh utama, melainkan pesan yang perlu dipahami. Menjelang liga kota, tekanan makin kencang. Devan, rival yang vibes-nya santai tapi tajam strategi, menawarkan sparring dan perspektif baru. Di antara taktik, tugas sekolah, dan ekspektasi pelatih, Raina belajar bahwa menang bukan sekadar mematahkan refleksi, melainkan menyatukan intuisi dengan data. Saat pertandingan krusial tiba, ia tidak lagi berusaha menghapus “aku” dalam cermin, melainkan bertanding berdampingan dengannya untuk bermain lebih jernih, lebih manusiawi.
Color
Bookmark
Posted By
Posted On
Updated On
Views ?
