Nara, mahasiswa desain berusia 20 tahun, hidup dengan gangguan suasana hati yang bikin harinya terasa seperti naik-turun tanpa pola. Ia mengandalkan jurnal warna untuk merekam emosi, kerja paruh waktu di kafe agar tetap terstruktur, dan lingkar pertemanan kecil yang paham ritmenya. Ketika kampus mengumumkan pameran akhir semester, Nara melihat kesempatan untuk bikin karya paling jujur tentang dirinya, tapi juga takut disalahpahami sebagai mencari simpati semata. Di tengah persiapan, ledakan euforia mendorongnya bikin keputusan impulsif, lalu kelelahan emosional datang dan membuatnya ingin mundur. Dengan dukungan sahabatnya, Arga, serta bimbingan terapis Bu Tania, Nara belajar mengatur tempo, menetapkan batas, dan berani minta bantuan. Malam puncak pameran, instalasi interaktifnya mengajak pengunjung menyelami spektrum emosi yang berubah-ubah. Cerita ditutup dengan nada realistis: bukan soal sembuh total, melainkan tumbuh, memahami diri, dan menantang stigma.
Color
Bookmark
Posted By
Posted On
Updated On
Views ?
